Monday, February 2, 2015

My Story about BTS [Bangtan Sonyeondan] 방탄소년단 {PART 2}



Saat jam istirahat aku dan lee hyuk chan keluar untuk makan siang. Aku biasa duduk di belakang cafe sambil saling bercerita dan berbincang-cincang dengan lee hyuk chan. Lee hyuk chan menceritakan soal 5 lelaki tadi padaku.
Lee Hyuk Chan : “hei, apa kau melihat 5 lelaki tadi itu ? saat aku ke toilet tadi aku melihat mereka. Ugh mereka benar-benar lelaki yang sangat tampan. Jika saja aku dan mereka seumuran. Hei, bukankah mereka itu seumuran denganmu ?”
Park Yeosin : “entahlah, kurasa umur mereka 2 atau 3 tahun diatasku.”
Lee hyuk chan : ”ah mungkin benar.”
Park Yeosin : ”kurasa mereka lelaki yang populer di sekolahnya”
Lee Hyuk Chan : ”itu sangat terlihat jelas, wajahnya saja benar-benar sangat tampan. Jika kau bisa melihatnya mereka mempunyai tulisan “POPULER” di jidatnya.”
Park Yeosin : “apa itu benar-benar tertulis di jidat mereka ? aku tidak melihatnya”
Lee Hyuk Chan : “Hei aku hanya bergurau, kau ini sudah berapa lama mengenalku ? masih saja tidak ada perubahan dari otakmu.”
Park Yeosin : “otakku baik-baik saja sejak awal.”
Lee Hyuk Chan : “ah sudahlah habiskan makananmu kita harus kembali bekerja.”
Park Yeosin : “eonnie-ah sepulang bekerja nanti temani aku ke suatu tempat ya. Ada sesuatu yang ingin aku beli dan aku butuh pendapatmu untuk itu.”
Lee Hyuk Chan : “baiklah, tapi kau harus membelikanku sesuatu juga ya. Aku sedang ingin memakan sesuatu saat ini.”
Park Yeosin : “Seharusnya kau yang mentraktirku, kau kan seniorku hehehe.”
Lee Hyuk Chan : “Aku tidak bisa berdebat dengan itu.” Sembari berdiri dan kembali ke ruangan.
Park Yeosin : “eonnie-ah tunggu aku.” Sambil berlari ke arah Lee Hyuk Chan

          Aku kembali pada pekerjaanku. Beberapa jam kemudian tepat jam 6 sore waktunya pulang.
Di ruang ganti
Park Yeosin : “Terimakasih kerja kerasnya hari ini, terimakasih semuanya.”
Pegawai lain : “iyaa.”
Di depan cafe
Park Yeosin : “Ada yang menelfon. Aku mengangkat telfon dulu sebentar.”
Lee Hyuk Chan : “Nde.”
Percakapan telefon
Park Yeosin : “Hallo”
Ayah : “Yeosin-ah, dimana kau ? bukankah seharusnya kau sudah pulang sekarang ?
Park Yeosin : “aku memang sudah pulang yah, tapi aku ingin ke suatu tempat dulu bersama hyuk chan eonnie. Hanya sebentar dan tidak akan lama.”
Ayah : “baiklah jangan pulang lewat dari jam malam kau mengerti ?”
Park Yeosin : “iya ayah. Aku tidak akan di luar sampai lewat jam malamku, aku kan selalu pulang tepat waktu.” Sambil tertawa kecil.
Ayah : “yasudah, hati-hati kau disana.”
Park Yeosin : “Nde, Aku sayang ayah. Jangan terlalu mengkhawatirkanku yaa.” Menutup telfonnya.

          Lee Hyuk Chan mendekatiku.
Lee Hyuk Chan : “Apa itu ayahmu ?”
Park Yeosin : “iya itu ayahku.” Sambil menaruh handphone ke saku jaketku.
Lee Hyuk Chan : “bahkan hanya telat sedetikpun kau sudah di telfon olehnya.”
Park Yeosin : “Kau iri ya ?” godaku “dia seperti itu karna mengkhawatirkanku dan terlalu menyayangiku.” Godaku lagi.
Lee Hyuk Chan : “Hei, kau mencoba membuatku terlihat buruk ya ?”
Park Yeosin : “tidak, aku hanya menggodamu saja.”
Lee Hyuk Chan : “dasar kau anak kecil.”
Park Yeosin : “Kau akan cepat tua jika terus memasang muka seperti itu.” Sambil menggandengnya lalu mulai berjalan.
Lee Hyuk Chan : “apa dengan aku marah umurku langsung bertambah 10 tahun dan menjadi 32 tahun ? itu tidak mungkin.”
Park Yeosin : “bukan umurmu tapi wajahmu yang akan mulai mempunyai banyak kerutan disini, disini, dan disini.” Sambil menunjuk mata, pipi dan dagu Lee Hyuk Chan.
Lee Hyuk Chan : “hei beraninya kau.” Sambil menolak tangan Park Yeosin.
Park Yeosin : “kau lebih cantik jika tersenyum. Jadi tersenyum lah seperti ini.” Sambil membuat senyuman di bibir Lee Hyuk Chan.
Lee Hyuk Chan : “hmmm. Terserah kau saja.”
          Di perjalan aku selalu menggoda Lee Hyuk Chan eonnie ku tersayang ini. Aku tau mungkin dia kesal, tapi dia tidak pernah benar-benar marah padaku. Mungkin karna dia memaklumi aku. Seorang wanita remaja yang masih butuh waktu untuk bersenang-senang hingga bisa menjadi dewasa.
          Setelah beberapa menit berjalan sampai lah kami di toko barang-barang mewah. Banyak barang-barang yang bagus disini, jelas saja barang-barang yang ada disini semuanya mahal jadi sudah pasti bagus dan kualitasnya terjamin.

Lee Hyuk Chan : “ini toko yang menjual barang-barang yang sangat mahal, bagaimana kau bisa berfikir untuk pergi kesini ? kau ingin membeli sesuatu disini ? apa kau punya uang ?”
Park Yeosin : “Aku sudah memikirkan ini sejak lama, aku ingin membeli suatu barang untuk ayah karna sebentar lagi dia akan berulang tahun yang ke-40. Apa salahnya jika aku memberi sesuatu yang mahal untukknya ? bahkan selama ini dia menghabiskan banyak uang untukku hingga aku bisa menjadi sebesar ini.”
Lee Hyuk Chan : “ya aku tahu itu, tapi apakah kau mempunyai uang untuk membelinya ?”
Park Yeosin : “Aku tidak mungkin kesini jika aku tidak mempunyai uang. Tenang saja, aku sudah mengumpulkan uang hasil kerjaku dari pertama aku kerja hingga sekarang.”
Lee Hyuk Chan : “apa itu cukup ?”
Park Yeosin : “Ya kurasa, ayo kita masuk. Orang-0rang akan berfikir kita aneh jika hanya berdiri di depan toko dan hanya memperhatikan toko ini.”

          Kami pun masuk ke dalam toko tersebut. Saat aku melihat barang-barang itu aku ingin membeli semuanya untuk ayah. Tapi saat aku melihat harga dari masing-masing barang itu sangat mahal. Jika aku membeli semua yang aku inginkan untuk ayahku uangku tidak akan cukup jadi aku hanya harus memilih satu diantaranya.
          Setelah lama mencari akhirnya pilihan tertuju pada jam tangan atau arloji yang pernah di berikan almarhum ibuku untuk ayah.

Park Yeosin : “Eonnie, lihat ini. Bukankah ini bagus ?” sambil menarik dan menunjukkan jam tangan pilihanku pada Lee Hyuk Chan.
Lee Hyuk Chan : “Jika kau merasa itu bagus dan cocok untuk ayahmu ambil saja yang itu.”
Park Yeosin : “Ini seperti jam tangan yang di berikan ibu untuk ayah sebelum ibu meninggal. Tapi jam itu rusak karna aku pernah tidak sengaja melemparnya sewaktu umurku masih 10 tahun. Aku ingin membelikan ini sebagai gantinya.”
Lee Hyuk Chan : “Aku benar-benar lelah, ambil lalu bayar setelah itu kita pulang.”
Park Yeosin : “Baiklah.” Sambil tersenyum lebar lalu pergi ke kasir.

          Setelah selesai kami langsung pulang ke rumah masing-masing.
Di Rumah
          Ayah yang sedang duduk di bangku sambil menonton tv.
Ayah : “Kau sudah pulang ?”
          Aku terkejut saat ayah berkata seperti itu, kukira ayah berada dikamarnya.
Park Yeosin : “Ayah, mengagetkan saja. Apa ayah menungguku disini ?” sembari menuju bangku tempat ayah duduk, lalu duduk di samping ayah.
Ayah : “Bagaimana menurutmu ?”
Park Yeosin : “Ayah, bukankah aku sudah bilang jangan mengkhawatirkanku. Aku akan kembali dengan selamat. Aku kan sudah mulai dewasa ayah.”
Ayah : “Kau itu wanita remaja yang sedang mencari jati dirimu, belum sepenuhnya kau dewasa. Pantas jika ayah masih mengkhawatirkanmu.”
Park Yeosin : “Yasudahlah. Aku lelah aku akan ke kamarku untuk istirahat. Selamat malam ayah.” Sambil mencium pipi ayah.


Di Kamar
          Aku langsung menaruh jam tangan di lemari bajuku agar tidak terlihat oleh ayah. Lalu setelah itu aku menaruh tas dan mengganti bajuku lalu pergi tidur.

No comments:

Post a Comment